Kembali ke Berita

Pelatihan Penyusunan Perangkat Ajar Berbasis Metode ABCD dan Integrasi Nilai Adiwiyata "Menuju Sentra Pendidikan yang Cerdas dan Peduli Lingkungan"

Pelatihan Penyusunan Perangkat Ajar Berbasis Metode ABCD dan Integrasi Nilai Adiwiyata "Menuju Sentra Pendidikan yang Cerdas dan Peduli Lingkungan"
Gemolong, Juli 2026 — Dalam rangka menyambut tahun ajaran baru dan meningkatkan mutu pedagogis tenaga pendidik, telah sukses dilaksanakan Workshop Peningkatan Kompetensi Guru dengan tema "Penyusunan Perangkat Ajar Berbasis Metode ABCD dengan Integrasi Nilai-Nilai Adiwiyata". Kegiatan intensif ini berlangsung selama dua hari, yaitu pada Senin – Selasa, 6–7 Juli 2026, bertempat di aula utama sekolah.

Kegiatan workshop ini menghadirkan narasumber yang sangat kompeten di bidang pengembangan kurikulum, yaitu Bapak Sumargo, S.Pd., selaku Kurikulum SMP MTA Gemolong. Kehadiran beliau memberikan warna baru dan pandangan praktis bagi para guru untuk menyusun Tujuan Pembelajaran (TP) yang tidak hanya terukur secara akademis, tetapi juga kontekstual dengan komitmen sekolah sebagai institusi Adiwiyata.

Hari Pertama: Senin, 6 Juli 2026
Sesi I: Membedah Metode ABCD dalam Perumusan Tujuan Pembelajaran
Kegiatan hari pertama dibuka dengan penuh semangat. Pada sesi awal, Bapak Sumargo, S.Pd. memaparkan materi inti mengenai pentingnya Metode ABCD dalam merumuskan Tujuan Pembelajaran pada perangkat ajar. Beliau menekankan bahwa arah pembelajaran yang jelas bermula dari rumusan TP yang baku dan dapat diukur. Guru-guru diajak mengupas kembali empat komponen utama:

A (Audience): Peserta didik sebagai pusat pembelajaran.

B (Behavior): Kompetensi atau perilaku spesifik yang diharapkan muncul setelah proses belajar.

C (Condition): Stimulus, aktivitas, atau lingkungan belajar yang diberikan kepada siswa.

D (Degree): Standar minimal atau tingkat keberhasilan pencapaian siswa.

Sesi II: Menganyam Nilai Adiwiyata ke dalam Ruang Kelas
Pada sesi siang, Bapak Sumargo memandu para peserta untuk mengintegrasikan nilai-nilai Sekolah Adiwiyata ke dalam metode ABCD. Beliau menegaskan bahwa program Adiwiyata bukan sekadar aksi fisik membersihkan lingkungan, melainkan harus masuk ke dalam ruh pembelajaran di setiap mata pelajaran melalui komponen Condition (C) dan Behavior (B).

Beliau memberikan contoh konkrit bagaimana mengubah TP konvensional menjadi TP berbasis ABCD yang berwawasan Adiwiyata:

"Melalui kegiatan pengamatan langsung di area bank sampah sekolah (Condition), peserta didik (Audience) dapat menganalisis jenis-jenis limbah organik dan anorganik (Behavior) dengan tepat (Degree)."

Hari Kedua: Selasa, 7 Juli 2026
Sesi III: Workshop Mandiri dan Pendampingan Kelompok
Hari kedua difokuskan pada aktivitas psikomotorik guru. Para peserta dibagi ke dalam kelompok berdasarkan rumpun mata pelajaran atau fase kelas untuk merevisi dan menyusun Modul Ajar mereka sendiri. Suasana workshop berjalan sangat dinamis.

Bapak Sumargo, S.Pd. secara aktif bergerak dari satu kelompok ke kelompok lain, memberikan pendampingan langsung (coaching). Beliau menantang para guru untuk memanfaatkan fasilitas fisik Adiwiyata sekolah—seperti green house, taman toga, dan pembuatan biopori—sebagai media belajar utama dalam perangkat yang mereka susun.

Sesi IV: Presentasi, Evaluasi, dan Penutupan
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, perwakilan dari setiap rumpun mata pelajaran mempresentasikan hasil rancangan perangkat ajar mereka di depan forum. Sesi tanya jawab dan peer-review berlangsung interaktif. Bapak Sumargo memberikan evaluasi akhir dan apresiasi atas kreativitas para guru yang berhasil mengawinkan target akademis dengan pembentukan karakter peduli lingkungan.

Kesimpulan Kegiatan
Pelatihan yang berlangsung selama dua hari (6–7 Juli 2026) ini telah berhasil menyamakan persepsi dan meningkatkan keterampilan para guru dalam menyusun administrasi pembelajaran yang terstruktur. Melalui bimbingan Kurikulum SMP MTA Gemolong, Bapak Sumargo, S.Pd., integrasi nilai Adiwiyata kini tidak lagi dipandang sebagai beban tambahan, melainkan sebagai instrumen strategis untuk melahirkan generasi cerdas yang cinta lingkungan.
Bagikan Artikel: